Raja Buaya Sungai Sekayam
Konon, dulunya Sungai Sekayam penuh dengan buaya-buaya buas yang suka
memakan manusia. Sungai Sekayam mengalir ratusan kilometer dan melewati
beberapa dusun dalam Entikong, Kalimantan Barat. Alirannya
berkelok-kelok menuju bagian hulu di kaki Puncak Borneo yang terkenal.
Pada musim kemarau saat air surut, ratusan buaya melintas dan bermain di
sungai itu, sehingga masyarakat desa takut mencari ikan dan berkebun di
sekitarnya. Kehidupan mereka miskin karena tak banyak hasil kebun dan
ikan yang bisa dijual.
Masyarakat desa semakin takut karena dalam sebulan selalu ada warga
yang hilang, kemungkinan dimakan buaya. Menurut cerita, beberapa orang
pernah melihat seekor buaya yang paling besar, berwarna putih, dan
sering mondar-mandir malam hari di sepanjang sungai. Warga yakin buaya
putih itulah yang memakan orang-orang kampung. Mereka pun sangat takut.
Akan tetapi, seorang dukun yang tinggal Dusun Badat, Maliu namanya,
tidak takut terhadap buaya-buaya itu. Bahkan, ia berniat menangkap buaya
putih yang diyakini sebagai raja para buaya di sungai itu.
Hingga pada suatu malam, di saat warga semua tertidur pulas, Maliu
berjalan ke sungai. Ia membawa serta peralatan untuk menjerat buaya.
Maliu merasa malu karena dikenal sebagai orang pandai di desanya, tapi
ia bahkan belum berhasil mengusir buaya-buaya berbahaya di sungai.
Akhirnya, tengah malam itu Maliu dengan cerdiknya memasang jerat yang
ia buat sendiri. Diikatkannya jerat itu di beberapa batang pohon.
Talinya terbuat dari kulit kayu Meranti yang sangat kuat. Sebagian
tali-tali itu diikatkan pada umpan yang kemudian dilempar ke dalam arus
Sungai Sekayam.
Setelah Maliu menunggu beberapa saat hingga mengantuk, jerat belum
menangkap seekorpun buaya. “Mungkin mereka sedang tertidur,” pikir
Maliu. Akhirnya dengan pasrah, ia pulang ke rumah.
Menjelang pagi, saat Maliu tertidur pulas di rumahnya, di dalam
Sungai Sekayam jerat tersambar oleh seekor buaya paling besar. Rupanya,
sang Raja Buaya Sekayam yang memakannya.
Raja Buaya Sekayam menggigit umpan itu, menariknya, hingga gigi-gigi
besarnya kelihatan. Tapi, tak disangka olehnya bahwa tali penjerat umpan
itu adalah tali Meranti yang sangat kuat. Beberapa kali Raja Buaya
Sekayam menarik-narik tali itu, tidak putus, dan malah tali itu terselip
di sela-sela giginya. Ia meraung-raung kesakitan.
“Auurrrghh …, Auurrgghh…. Sakiiiit!” teriaknya.
Tali Meranti itu masih menyangkut di gigi sang Raja Buaya Sekayam.
Akhirnya ia melepaskan umpan, tidak bisa memakannya. Ia pun merangkak
keluar sungai.
“Aduuuh ….” sang buaya sakit gigi.
Akhirnya …
Saat hari mulai terang, matahari mulai tinggi, sang Raja Buaya
Sekayam berpikir bahwa ia harus menemukan dukun untuk melepaskan tali
jerat yang terselip agar giginya sembuh. Ia lalu menjelma menjadi
seorang manusia, yang sedang sakit gigi. Ia memakai nama Pelanduk.
Pelanduk lalu masuk ke Dusun Badat, bermaksud mencari dukun yang bisa
melepaskan jerat di giginya dan menyembuhkan sakitnya. Setelah
mencari-cari, akhirnya ia menemukan sebuah rumah yang ditinggali oleh
Dukun Maliu.
Tok … tok … tok …! Raja Buaya mengetuk pintu rumah.
Pintu itu dibuka, lalu keluarlah Dukun Maliu. Ia tak tahu siapa yang mendatanginya.
“Tolong, nama saya Pelanduk. Saya sedang sakit gigi. Ada tali
terselip di gigi saya. Saya akan sangat berterima kasih kalau Dukun
Maliu bisa menyembuhkan saya,” pinta Pelanduk yang sebenarnya adalah
raja buaya Sekayam.
“Oo …, kamu ya,” balas Maliu. Sambil senyum ia langsung menyadari
bahwa tamunya adalah raja buaya yang terkena jeratnya semalam. “Baiklah
kalau begitu. Saya akan menyembuhkanmu. Mari masuk.”
“Terima kasih, Maliu,” kata Pelanduk.
Akhirnya atas bantuan Dukun Maliu hari itu, Pelanduk sembuh dari
penyakitnya. Ia pun kembali ke sungai Sekayam dan menjadi Raja Buaya
Sekayam lagi.
Menyadari kebaikan hati Dukun Maliu dan warga dusun, Raja Buaya
Sekayam menjadi baik. Ia lalu memerintahkan seluruh buaya untuk
menyingkir dari Sungai Sekayam dan pindah ke bagian muara.
Sejak saat itu, Sungai Sekayam pun menjadi tenang, tak satupun buaya
yang menghuninya. Warga Dusun Badat dan beberapa kampung lainnya bisa
kembali berkebun dan menangkap ikan. Kehidupan mereka menjadi makmur.
Dukun Maliu senang. Usahanya berhasil. Ia pun dijadikan Ketua Adat.
Sang Raja Buaya Sekayam kemudian memilih berdiam diri di Riam Awuh,
salah satu air terjun yang sangat indah di bagian tengah aliran Sungai
Sekayam. Ia mengawasi sungainya. Setiap kali ada buaya yang ingin menuju
hulu dekat dusun, Sang Raja Buaya Sekayam mengusirnya dan memerintahkan
untuk kembali ke muara dan tidak mengganggu orang-orang. Ini adalah
bentuk terima kasihnya kepada warga dusun.
Begitulah sampai sekarang, tidak nampak buaya di sepanjang hulu Sungai Sekayam.
gambar nya gambar copyright
BalasHapus