Sabtu, 28 September 2013



Raja Buaya Sungai Sekayam


Konon, dulunya Sungai Sekayam penuh dengan buaya-buaya buas yang suka memakan manusia. Sungai Sekayam mengalir ratusan kilometer dan melewati beberapa dusun dalam Entikong, Kalimantan Barat. Alirannya berkelok-kelok menuju bagian hulu di kaki Puncak Borneo yang terkenal. Pada musim kemarau saat air surut, ratusan buaya melintas dan bermain di sungai itu, sehingga masyarakat desa takut mencari ikan dan berkebun di sekitarnya. Kehidupan mereka miskin karena tak banyak hasil kebun dan ikan yang bisa dijual.
Masyarakat desa semakin takut karena dalam sebulan selalu ada warga yang hilang, kemungkinan dimakan buaya. Menurut cerita, beberapa orang pernah melihat seekor buaya yang paling besar, berwarna putih, dan sering mondar-mandir malam hari di sepanjang sungai. Warga yakin buaya putih itulah yang memakan orang-orang kampung. Mereka pun sangat takut.
Akan tetapi, seorang dukun yang tinggal Dusun Badat, Maliu namanya, tidak takut terhadap buaya-buaya itu. Bahkan, ia berniat menangkap buaya putih yang diyakini sebagai raja para buaya di sungai itu.
Hingga pada suatu malam, di saat warga semua tertidur pulas, Maliu berjalan ke sungai. Ia membawa serta peralatan untuk menjerat buaya. Maliu merasa malu karena dikenal sebagai orang pandai di desanya, tapi ia bahkan belum berhasil mengusir buaya-buaya berbahaya di sungai.
Akhirnya, tengah malam itu Maliu dengan cerdiknya memasang jerat yang ia buat sendiri. Diikatkannya jerat itu di beberapa batang pohon. Talinya terbuat dari kulit kayu Meranti yang sangat kuat. Sebagian tali-tali itu diikatkan pada umpan yang kemudian dilempar ke dalam arus Sungai Sekayam.
Setelah Maliu menunggu beberapa saat hingga mengantuk, jerat belum menangkap seekorpun buaya. “Mungkin mereka sedang tertidur,” pikir Maliu. Akhirnya dengan pasrah, ia pulang ke rumah.
Menjelang pagi, saat Maliu tertidur pulas di rumahnya, di dalam Sungai Sekayam jerat tersambar oleh seekor buaya paling besar. Rupanya, sang Raja Buaya Sekayam yang memakannya.
Raja Buaya Sekayam menggigit umpan itu, menariknya, hingga gigi-gigi besarnya kelihatan. Tapi, tak disangka olehnya bahwa tali penjerat umpan itu adalah tali Meranti yang sangat kuat. Beberapa kali Raja Buaya Sekayam menarik-narik tali itu, tidak putus, dan malah tali itu terselip di sela-sela giginya. Ia meraung-raung kesakitan.
“Auurrrghh …, Auurrgghh…. Sakiiiit!” teriaknya.
Tali Meranti itu masih menyangkut di gigi sang Raja Buaya Sekayam. Akhirnya ia melepaskan umpan, tidak bisa memakannya. Ia pun merangkak keluar sungai.
“Aduuuh ….” sang buaya sakit gigi.
Akhirnya …
Saat hari mulai terang, matahari mulai tinggi, sang Raja Buaya Sekayam berpikir bahwa ia harus menemukan dukun untuk melepaskan tali jerat yang terselip agar giginya sembuh. Ia lalu menjelma menjadi seorang manusia, yang sedang sakit gigi. Ia memakai nama Pelanduk.
Pelanduk lalu masuk ke Dusun Badat, bermaksud mencari dukun yang bisa melepaskan jerat di giginya dan menyembuhkan sakitnya. Setelah mencari-cari, akhirnya ia menemukan sebuah rumah yang ditinggali oleh Dukun Maliu.
Tok … tok … tok …! Raja Buaya mengetuk pintu rumah.
Pintu itu dibuka, lalu keluarlah Dukun Maliu. Ia tak tahu siapa yang mendatanginya.
“Tolong, nama saya Pelanduk. Saya sedang sakit gigi. Ada tali terselip di gigi saya. Saya akan sangat berterima kasih kalau Dukun Maliu bisa menyembuhkan saya,” pinta Pelanduk yang sebenarnya adalah raja buaya Sekayam.
“Oo …, kamu ya,” balas Maliu. Sambil senyum ia langsung menyadari bahwa tamunya adalah raja buaya yang terkena jeratnya semalam. “Baiklah kalau begitu. Saya akan menyembuhkanmu. Mari masuk.”
“Terima kasih, Maliu,” kata Pelanduk.
Akhirnya atas bantuan Dukun Maliu hari itu, Pelanduk sembuh dari penyakitnya. Ia pun kembali ke sungai Sekayam dan menjadi Raja Buaya Sekayam lagi.
Menyadari kebaikan hati Dukun Maliu dan warga dusun, Raja Buaya Sekayam menjadi baik. Ia lalu memerintahkan seluruh buaya untuk menyingkir dari Sungai Sekayam dan pindah ke bagian muara.
Sejak saat itu, Sungai Sekayam pun menjadi tenang, tak satupun buaya yang menghuninya. Warga Dusun Badat dan beberapa kampung lainnya bisa kembali berkebun dan menangkap ikan. Kehidupan mereka menjadi makmur.
Dukun Maliu senang. Usahanya berhasil. Ia pun dijadikan Ketua Adat.
Sang Raja Buaya Sekayam kemudian memilih berdiam diri di Riam Awuh, salah satu air terjun yang sangat indah di bagian tengah aliran Sungai Sekayam. Ia mengawasi sungainya. Setiap kali ada buaya yang ingin menuju hulu dekat dusun, Sang Raja Buaya Sekayam mengusirnya dan memerintahkan untuk kembali ke muara dan tidak mengganggu orang-orang. Ini adalah bentuk terima kasihnya kepada warga dusun.
Begitulah sampai sekarang, tidak nampak buaya di sepanjang hulu Sungai Sekayam.

Suku Dayak Sikukng

orang Sikukng
Suku Dayak Sikukng (Sungkung), adalah suku dayak yang bermukim di dataran tinggi puncak bukit dan dataran tinggi gunung Sungkung di perbatasan Sarawak Malaysia dengan Kalimantan Barat Indonesia. Pemukiman suku Dayak Sikukng di kabupaten Bengkayang, disebut Sungkung Kompleks, terdiri dari 6 kampung, yaitu kampung Sungkung Senoleng, Sungkung Akit, Sungkung Lu’u, Sungkung Medeng, Sungkung Senebeh dan Sungkung Daun. Sedangkan yang berada di kabupaten Sanggau tersebar di 2 kampung yaitu kampung Pol dan kampung Senutul. Populasi suku Dayak Sikukng diperkirakan sebesar 2.500 orang.

Istilah Sikukng (Sungkung), berart "bulatan rotan untuk anting-anting", yang berasal dari bahasa Cina Kek yang berarti ‘bulatan rotan’ untuk anting-anting. Suku Dayak Sikukng, menyebut diri mereka sebagai Sikukng, sedangkan suku-suku dayak tetangga mereka menyebut mereka sebagai Sihkoy, sedangkan menurut etnis lain di luar wilayah mereka menyebut mereka sebagai Sungkung.
Bahasa Dayak Sikukng adalah bahasa yang diucapkan di perkampungan Sikukng. Bahasa ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Bidayuhik, sedangkan suku Dayak Sikukng, menurut para peneliti dimasukkan ke dalam rumpun suku Dayak Bidayuh.
Asal usul suku Dayak Sikukng, menurut mereka memang mereka berasal dari tempat mereka berada saat ini, yaitu wilayah Sungkung. Dari wilayah inilah mereka menyebar ke berbagai perkampungan hingga sampai ke wilayah Sarawak Malaysia. Menurut penuturan mereka, sebelum berada di wilayah Sungkung sekarang ini, dulu mereka dikenal sebagai suku Bi Sikuk, sebenarnya dulu mereka tinggal di daerah pantai, dan hidup berdampingan dengan suku Dayak Melanau. Tetapi setelah lama menetap di daerah pantai, mereka di serang oleh orang Lanun (bajak laut), kelompok dari orang-orang Iban dan orang-orang Melayu Brunai. Tidak tahan dan tidak kuat bertahan dari serangan bajak laut (lanun), mereka terdesak masuk ke dalam hutan dan mencari tempat baru di daerah pegunungan yang sukar dilalui oleh manusia. Di wilayah baru ini, mereka membangun perkampungan, yang sekarang bernama Sungkung Kompleks yang sekarang berada dalam wilayah kabupaten Bengkayang, dari tempat ini beberapa kelompok meneruskan perjalanan menuju wilayah kabupaten Sanggau dan sampai ke wilayah Sarawak Malaysia.
Walaupun mereka tersebar di beberapa kabupaten hingga ke Malaysia, tetapi adat istiadat dan bahasa yang diucapkan tidak jauh berbeda, hanya terjadi perubahan konsonan bunyi vokal saja.
Saat ini suku Dayak Sikukng adalah penganut agama Kristen Katolik, sebagian besar meninggalkan agama adat dan tradisi adat lama mereka yang masih berhubungan dengan dunia mistis dan dunia roh.
Suku Dayak Sikukng, menjalani pola hidup pada pertanian berladang. Mereka menanami gunung-gunung dengan tanaman padi ladang. Menanam padi bagi mereka adalah sebuah ritual, yang mereka namakan sebagai ritual tanong. Untuk melakukan ritual tanong, cukup oleh pihak keluarga yang ingin melaksanakan ritual tersebut, jadi tidak harus bersama-sama dengan seluruh warga kampung. Apabila panen telah selesai, maka mereka akan mengundang seluruh warga kampung dan merayakan keberhasilan panen dengan mengadakan pesta Nyobekng. Pesta nyobekng ini diikuti oleh seluruh kampung. Tua muda bergembira dan menari bersama sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan hasil panen padi yang bagus.
Selain bertani berladang, mereka juga memanfaatkan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan.

 SEJARAH PENELAAH GUNUNG NIUT




Gunung Niut adalah sebuah Pegunungan yang unik dan eksotik. Di kaki Bukit Gunung ini bertebaran pemukiman penduduk yang didominasi mayoritas Etnis Dayak Bidayuh, Dayak Bengkawat’Nt dan Dayak Bakati’k. Salah Satu dari Keunikan yang menjadi kearifan lokal adalah bahasa lokal setempat (perkampungan di bawah Gunung Niut-Red) dengan penuturan unik seperti Kicauan Burung.
Meski tampaknya satu rumpun tetapi di setiap perkampungan, memiliki perbedaan bahasa serta penuturan yang berbeda dari Suku Dayak pada umumnya. Keajaiban ini nyata ketika mereka berkomunikasi, namun saling mengerti walaupun berbicara dengan dialek masing-masing kelompok.
Bahasa Bengkawat’n dan “Bahasa Bajob’M’ misalnya ketika diucapkan terdengar seperti melalui tenggorokan dan hanya sedikit saja penuturan menggunakan lidah. Bahasa serta penuturan tersebut sebenarnya perlu dilestarikan karena merupakan kearifan lokal serta kekayaan budaya yang tidak ternilai.
Daerah Pegunungan Niut pada umumnya adalah bagian dari kelompok Binua HLiboey. salah Satunya adalah Dusun Bumbung, Desa Bengkawan Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.
Sayangnya, tak banyak, yang mengenal Bumbung, daerah yang berada di kaki Gunung Niut ini banyak menyimpan kisah dan sejarah menarik mengenai kehidupan orang-orang terdahulu.
Tidak ada alternatif lain menuju Daerah Bumbung, selain melalui transportasi Sungai menelusuri Sungai Biang menggunakan perahu tempel (speed boad) dengan jarak tempuh berkisar 4 Jam perjalanan Sungai. Akses transportasi darat menuju daerah ini masih melalui jalan setapak, sebab pembangunan Infrastruktur jalan dan jembatan belum ada.
Dusun Bumbung terkesan tersembunyi, meskipun sudah dimekarkan menjadi sebuah Desa, yakni Desa Bengkawan, namun Bumbung tetap menjadi pelabuhan ternama sebagai pusat perdagangan sejak Zaman Saomokil hingga sekarang.
Pelabuhan Bumbung menurut Ayul Kibli, selaku Kepala Desa Bengkawan menuturkan jika pelabuhan tersebut masih dikenal masyarakat setempat hingga sekarang. Disampaikannya, pelabuhan Bumbung berdasarkan sejarah merupakan pusat persinggahan para pedagang (Saumokil-Red) yakni perdagangan sebagai pertukaran barang (Barter-Red).
“Kampung Bumbung dulunya tempat persinggahan para Saumokil,” Kata Ayul Kibli yang sudah menjabat selaku Kepala Desa Dua periode.
Berdasarkan sejarah, Dusun Bumbung juga merupakan Tempat persinggahan para pedagang asal Sambas (Laut-Red) yang menjual beberapa keperluan bahan pokok bagi warga dari pegunungan yang akan berbelanja.
Kedatangan mereka herasal dari berbagai perkampungan seperti Kampung Tengon, Tokot, Kambih, Sungkung, Tamong dan Tawang. Berawal dari ekspansinya para pedagang ini sehingga dalam kurun waktu yang relatif singkat, mereka (Laut-Red) membuat permukiman sementara (Parok’Ng) yang akhirnya menjadi sebuah perkampungan Melayu yang disebut Bumbung.
Perkawinan silangpun tidak terelakan, membaur hingga beranak pinak. Tidak heran jika Dusun Bumbung walaupun mayoritas Dayak tetapi menganut Agama Islam yang dinamakan (masok Laut-Red).
Walaupun berbeda keyakinan, namun keberadaban warga Bumbung masih menghormati Adat istiadat dan Budaya yang . menjadi kearipan lokal.
Dusun Bumbung Desa Bengkawan .ini merupakan perkampungan dengan cerita unik, karena menyimpan banyak.sejarah dan budaya seperti rumah Adat Balug pertama didirikan di Benua HLiboy yakni Rumah Adat Balug Kambih. Balug ini memiliki Ciri khas tersendiri karena tidak memiliki ruangan dan dipisahkan oleh pembatas, atapnya terbuat dari Daun Rumbia (Sagu) dan memiliki Dua pintu yang menghadap kebarat dan timur. Hanya saja di depan Masing-masing pintu terdapat serambi sebagai tempat musyawarah dalam setiap penyelesaian masalah yang berhubungan dengan adat-istiadat.
Rumah Adat Balug Kambih juga dibuat tanpa menggunakan paku, sungguh kearifan lokal yang luar biasa.
Sejarah rumah adat Balug yang pertama terdapat di Dusun Kambih, hanya saja belum dikenal oleh masyarakat luas, tetapi paling tidak Desa Bengkawan menjadi tempat bersejarah,





Kamang tariu adalah roh-roh leluhur dari orang dayak. Ia berpakaian cawat dan kain kepala warna merah dan putih diputar bersama ( tangkulas ). Ini juga pakaian dari pengayau kalau mereka pulang dengan membawa hasil. Kamang pandai melihat, mencium bau dan makanannya darah. Ini terlihat dari upacara-upacara adat. Darah untuk kamang dan beras kuning untuk jubata. Kamang tariu dan kamang 7 bersaudara. Kamang tariu adalah adalah Kamang Nyado dan Kamang Lejak. Sedangkan kamang 7 bersaudara adalah Bujakng Nyangko ( yang tertua ) tinggal dibukit samabue, Bujakng Pabaras, Saikng Sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh, Buluh Layu’ dan Kamang Bungsu ( dari Santulangan ). Bujakng Nyangko adalah kamang yang baik. Sedangkan yang lain terkadang baik dan terkadang jahat. Saikng sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh dan Buluh Layu’ adalah kamang yang sering tidak senang dan menyebabkan pada waktu itu penyakit dan kematian. Kamang Tariu dengan 7 bersaudara itu adalah pelindung dari para pengayau.

Suku Dayak terdiri dari ratusan subsuku. Masing-masing subsuku mempunyai bahasa yang berbeda. Tetapi adat dan budaya mereka hampir mirip satu sama lain. Dengan pengaruh shamanisme yang kuat hampir semua peristiwa besar selalu dihubungkan dengan kejadian mistis. Karena pluralitas diantara mereka konsep mengenai kamang dan perangpun berbeda. Tetapi konsep kamang yang saya ungkapkan diatas adalah konsep yang paling umum ditemui, terutama rumpun Kanayatn.
Selain itu dalam perang muncul tokoh mistis lain seperti Panglima burung, Panglima api, Panglima Petir. Tetapi yang populer adalah tokoh Panglima burung…